Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Thursday, March 10, 2011

Jalaran Soko Kulino :)

Special for my lovely class, my colorful class, SCIFO. :)


"Tresno iku jalaran soko kulino.."


Memang benar pepatah Jawa yang satu ini. Bukan cinta yang membuat kita terbiasa, tapi karena terbiasa itulah tumbuhlah cinta.

Di sinilah letak kuncinya.
Jangan heran jika kamu mencintai mereka yang terbiasa di dekatmu. Dengan mereka kamu berbagi, tertawa, menangis, jatuh, dan bangkit. Bagaimana mungkin kamu tidak mencintai mereka?

Jika kamu menghendaki berhenti mencintai sesuatu, maka biarkanlah cinta itu berdiri di tempat ia tumbuh. Jangan pernah kau siram, jangan pula kau pupuk, jangan buat dirimu terbiasa lagi dengan apa yang kamu cintai. Maka cinta itu akan semakin layu, layu, dan layu. Kemudian mati.

Begitulah teorinya.
Tetapi faktanya, tidak mencintai yang telah kita cintai belum pernah menjadi perkara mudah.
Read More»»

SCIFOe Fam on Vacation [2]

Setelah puas bermain di Game Fantasia, kami jalan-jalan ke tempat jualan Ipod, ipad, dll. Uniknya, di sana kita bebas dan gratis mencoba alat di sana. Ya udah, aku tidak menyianyiakan kesempatan. Dan jujur aku mengakui, ini baru pertama kalinya aku memegang ipad dan ipod. Hehe. Laptopnya bagus banget. Bentuknya tipis mirip tissue toilet. Haha. OS yang digunakan bukan windows seperti yang ada pada komputer atau laptop kebanyakan, tapi pakai Mac OS alias OS khusus untuk komputer keluaran apple. Keren banget. Selain mencoba laptop, aku juga mencoba Ipod. Dan aku tidak bisa menggunakannya T_T. Setelah itu aku juga mencoba komputer ukuran super jumbo yang tidak menggunakan CPU. Aku kurang tahu bagaimana caranya kenapa monitor komputer bisa menyala serta bagaimana mouse dan keyboard bisa terhubung ke monitor tanpa CPU. Yang pasti, itu keren banget.

Tiba-tiba..
"Cah, kumpul sek. Hapene Dhika ilang." Ayu berbisik padaku.
Kemudian aku dan teman-teman berkumpul di depan eskalator, sejenak melupakan kekaguman pada ipad, ipod, laptop, dan komputer tanpa CPU. Sementara itu, Dhika dan beberapa orang temanku pergi ke lantai ground untuk lapor ke satpam. Sementara yang lain berpikir bagaimana cara kita mengurus hape tersebut tanpa harus ketinggalan kereta terakhir karena saat itu hari sudah sore.

Setelah itu kami menyusul Dhika ke ground. Baru saja turun dari eskalator, kami mendengar ibu-ibu berteriak dan berlari disusul dengan orang-orang di belakangnya. Aku bingung saat itu karena keadaan mall menjadi carut marut dan mencekam. Aku tahu ada bahaya datang, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sehingga aku memegang erat lengan kedua temanku yang ada di sampingku. Sementara itu teman-temanku yang lain sudah ada yang berlari untuk berlindung.

Tiba-tiba kulihat dua orang mas-mas jotos-jotosan. Badannya sampai dibentur ke tembok. Ngeri! Aku belum sempat lari waktu itu karena masih terpaku dengan apa yang kulihat. Hingga tanpa sadar, ada mas-mas di belakangku yang juga sedang berkelahi. Jadi ternyata yang jotos-jotosan tidak hanya sepasang, tapi banyak! Alhasil, aku yang lelet berpikir itu sempat terkena tendangan maut mas-mas yang jotos-jotosan di belakangku. Sakit memang. Dan baru karena tendangan itulah aku akhirnya lari. Begitu juga temanku yang kupegang erat lengannya. Kakinya kena injak mas-mas yang berkelahi, sampai merah warnanya.

Setelah para mereka yang berkelahi itu ditangkap oleh pak satpam, aku dan teman-teman yang sempat berpencar itu berkumpul kembali.

"Durung rampung masalah Dhika, saiki ono mas-mas tawuran. Wis, sesuk meneh tobat ra sah ning Amplas. Sesuk nek liburan ning TW wae ben tentrem."
"Eh, kui rak mas-mas sing nge game bareng awak dewe ning game fantasia kan?"
"Ho.o."
"Mungkin rak nek mase sing njupuk? Mau tase Dhika yo sempet ilang ning Game Fantasia."
"Mungkin banget! ayo ngomong satpam sing nyidang mas-mase. Nyuwun tulung sisan nggledhahi tase mase."

Singkat cerita, kami muter-muter. Naik ke atas, turun ke bawah, jalan ke depan, mundur ke belakang, untuk mencari hape temanku tersebut yang sialnya bukan hape miliknya, tetapi milik kakaknya. Tipe hapenya Nokia E63, cukup menarik perhatian juga karena bisa dibilang hape bagus.

Pada akhirnya, pak satpam tidak menemukan hape tersebut di tas mas-mas yang berkelahi itu. Kami terpaksa pulang tanpa memperoleh kembali hape Dhika karena kereta terakhir menuju Solo akan segera berangkat.

Kami naik Trans Jogja lagi menuju Stasiun Tugu. Kami mengira kereta terakhir berangkat pukul 18.15. Tapi ketika kami akan membeli tiket, hmm.. kereta terakhir jam 19.00. Dan baru saja jam 17.30 kereta menuju Solo berangkat. Ouhh! Kita tertinggal beberapa menit. Tapi ya sudahlah.

Akhirnya kami naik kereta Prameks terakhir pukul 19.00. Kami tiba di Solo sekitar pukul 20.00, sambil disambut oleh gerimis hujan. Kami pun pulang, tanpa oleh-oleh. Hanya cerita dan kenangan.


Pelajaran yang bisa diambil dari hari itu:

  1. Pesan abi sebelum aku berangkat ke Jogja : "Hati-hati. Barangnya dijaga baik-baik. Tas ditaruh di depan. Jangan smsan atau ngetokke dompet sak penake di tempat ramai."
  2. Kalau kamu berusaha dan kamu bener-bener laper, maka makan sumpit tidak akan sesulit yang kita kira. Wkwk.
  3. Menjadi orang luar negeri itu melelahkan dan cukup membuat badan njarem semua meskipun cuma sehari. Perginya naik kereta dan bus, setelah itu jalan kaki ke manapun kita pergi.
  4. Sahabat adalah orang yang menerimamu sebagaimana adanya. Dengan mereka kamu bisa menangis, tertawa lepas, tanpa harus menyembunyikan bagaimana dirimu sebenarnya.
Read More»»

SCIFOe Fam on Vacation [1]

9 Maret 2011
Liburan ke Jogja? Itu biasa. Jalan-jalan bareng temen-temen sekelas? Itu mah emang kerjaan kebanyakan anak SMA. Tapi SCIFOe on Vacation tanggal 9 Maret 2011 itu liburan paling ekstrim dalam perjalanan 17 tahun hidupku.


Bagi yang belum tahu,
SCIFO = SCIence FOur alias IPA 4
SCIFOe on Vacation = Liburannya anak-anak kelas IPA 4 ke Kota Jogja tanggal 9 Maret 2011

Pagi itu, aku dan teman-teman kumpul di Stasiun Balapan Solo pada pukul 08.00 WIB. Sayang sekali, dari 32 anak SCIFO, hanya 21 anak yang bisa ikut liburan. Hiks. Kami pun memesan tiket kereta Prameks yang berangkat menuju Jogja pukul 08.45. Dan akhirnya, pukul 08.45 kereta Prameks mengantarkan kami masuk dalam sebuah cerita yang kelak akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Kami akhirnya tiba juga di Stasiun Tugu, Jogja, entah pukul berapa.

"Meh ning endi ki?"
"Mbuh ii. Mlaku wae yo ben koyo wong luar negeri."
"Ho.o, Singapore. Sisan latian dadi mahasiswa NTU (Nanyang Technologycal University)."
"Amiin."

Kemudian kami yang tanpa tujuan itu berjalan menyusuri setiap jengkal jalanan Malioboro. Kami sama sekali tidak berhenti untuk membeli sesuatu di sana. Hahaha, nasib anak nggak punya duit ya begitu itu! Di belakang halte bus Trans Jogja, kami istirahat. Dan, HOREE, rejeki datang. Bayu, temen sekelasku yang mirip sama Umar IMB, bagi-bagi makanan. Sambil makan, kami melihat peta kota Jogja yang terpampang di jalan.

"Meh ning endi ki cah?"
"Saksake wae. Sing penting bareng-bareng."
"Hmm, ngendi yaa.."
"Taman Pintar wae yo."
"Yo wes ayo, ketimbang bingung meh ning endi."

Akhirnya kami melangkahkan kaki menuju Taman Pintar. Makin terus kita jalan, makin banyak polisi di sana. Eh, ternyata kita disambut dengan demo. Mas-mas yang demo nyanyi Indonesia Raya sambil ngangkat-ngangkat tulisan "TURUNKAN SBY!!!" Weleh, weleh. Bagi yang belum pernah liat demo, tentu ini menjadi pemandangan luar biasa. Tapi dulu ketika SD dan SMP aku terbilang kerap terlibat dalam pawai, turun ke jalan, nyanyi yel-yel, angkat spanduk, dll. Meskipun bukan demo, setidaknya suasananya sudah tidak asing dilihat.

Beberapa lama setelah itu, kami sampai di Taman Pintar. Di sana kami bermain di tempat mainan anak TK, kemudian terkagum-kagum pada alat-alat yang dipampang di sana. Hahaha. Setelah itu kami pesan tiket masuk. Karena kami dianggap pelajar, jadi harga tiketnya Rp 8000. Kami akhirnya muter-muter di dalam Taman Pintar, mencoba alat peraga satu-satu sampai puas. Ada yang gayeng di sana! Ogik menciba jadi TV Broadcaster. Trus rekamannya kita copy di flashdisk. Satu pelajaran yang bisa diambil, ternyata menjadi TV Broadcaster tidak terlalu susah, karena tugas kita hanya baca script yang diletakkan tepat di bawah kamera.

Setelah itu kita naik Trans Jogja menuju Ambarrukmo Plaza. Harga satu tiketnya Rp 3000. Di sepanjang perjalanan, kami sepertinya mengganggu ketentraman penumpang di sana. Kita  ngakak-ngakak sambil teriak-teriak. Lengkap sudah.


"Eh, itu monumen apa tho?" tanya Ayu.
"Itu kan Monjali, Monumen Jogja Kembali." kata seseorang dari anggota SCIFO.
Kemudian dengan sangat memalukan, Ayu berseru, "Itu Monjali? Ya ampuun, ini baru pertama kalinya aku liat Monjali! Hahaha."
Semua SCIFO ngakak, bahkan penumpang lain di sana juga pada nahan ngakak. Wkwk.
"Ngopo tho? Itu bukan Monjali tho?" tanya Ayu.
"Salahe diapusi gelem!"


Di perjalanan pula, kami lewat universitas impian kami semua, UGM (Universitas Gadjah Mada).


"Eh, ayo kita berhenti di sini. Masuk sana trus ndaftarke nama kita di UGM buat jadi mahasiswa di sana 1,5 tahun lagi." kata Ita.
"Hahaha, lewat jalur undangan.."kataku.
"Undangan opo le le. Kita kan jalur mandiri. Jadi nggak ada ngaruhnya smansa diblacklist dari jalur undangan, soalnya kita udah daftar lewat jalur mandiri."
"Jalur mandiri?"
"Ho.o, kan ndaftar dewe, nerima dewe. Wkwk."
"Hahah, trus bar ndaftar jalur mandiri awak dewe pesen kos kosan ning kene. Ngko SCIFO ngekos bareng."
"Amiin."


Setelah lama menghancurkan ketentraman Bus Trans Jogja, kami sampai di Ambarrukmo Plaza. Kami bingung lagi mau ke mana. Tujuan kami adalah makan siang, tapi makan di mana? Akhirnya rombongan terpecah menjadi dua. Ada yang makan di KFC, ada yang di HokBen. Tapi kebanyakan memang di Hokben, termasuk aku.

"Sumpah nggak enak banget makan pakai sumpit. Kayak dunia kehabisan sendok aja." kataku.
"Aku juga nggak bisa. Ayo berjuang. Sisan latian kalau misal besok jadi murid di Jepang." kata Tika.
"Amiin."

Di HokBen, yang notabene restaurant nuansa Jepang itu, akhirnya aku sukses menghabiskan semangkuk nasi dengan sumpit murni tanpa bantuan sendok. Bangganya minta ampun. Karena sejak dulu sampai usiaku segede ini, aku nggak pernah bisa makan pakai sumpit. -.- Oiya, waktu itu aku pesen yang paling murah, haha, jadi total makan plus minum di HokBen Rp 15000.

Habis itu kita main di Game Fantasia. Seru. Paling seru pas nge-pump. Pokoknya nge-dance nge-dance gitu. Kita bermain seperti orang tolol di sana. Seharusnya cuma dipakai maksimal dua orang, tapi kita main ramai-ramai, kerja sama satu sama lain. Hahaha.

Ketika kami main di Game Fantasia, ada segerombolan mas-mas seumuran dengan kami. Sebagian ada yang pakai celana seragam SMA dengan baju atasan kaos biasa. Mereka bermain game di belakang kami. Main game jotos-jotosan.

Aku pikir, "Ah, biasa anak laki-laki."

Tapi ternyata, setelah itu kami benar-benar melihat mereka jotos-jotosan, tepat di depan mata kami.
Read More»»

Saturday, March 5, 2011

Kenapa Aku Memilih SMANSA? [2]

Saat itu, mulai muncul niatku untuk mendaftar SMAIT. Sayangnya orangtuaku tidak setuju, bukan karena SMAIT tidak baik,"Kalau kamu punya tujuan, ditenani dulu. Optimis biar ketrima. Jangan setengah-setengah."

"Tapi ini susah, Mi, Bi. Meskipun nantinya nilai UN-nya 90 pun belum tentu bisa diterima." kataku. Saat itu nilai UN memang belum diumumkan.

"Udah kebacut SMANSA. Ditenani SMANSA dulu aja, daftar SMAITnya gelombang 2 kalau semisal SMANSAnya nggak keterima." kata orangtuaku.

"Lhooo.. Kalo SMAIT nggak membuka gelombang 2 nanti gimana? Temen-temenku yang daftar SMAIT banyak banget." kataku.

"Ya udah, berarti PSB Online SMAN 4." Mereka menjawab santai.

Wah, lha kok penak men. SMAN 4 kan termasuk favorit. Nek misalnya nilai UNku tidak sesuai harapan kan juga nggak bisa masuk SMAN 4.

Setelah peristiwa negosiasi tersebut, aku pun menjalani serangkaian test yang ribet itu. Barulah kusadari, "Kok soalnya susah banget sih? Kayaknya kemungkinan besar nggak diterima." Perasaanku campur aduk. Yang bisa kulakukan adalah berdoa supaya diterima, kalaupun tidak diterima, semoga SMAIT membuka gelombang kedua karena aku tidak punya minat masuk SMAN 4 meskipun masuk ke sana juga susah.

Setelah itu nilai UN diumumkan. Alhamdulillah, sesuai dengan yang dicita-citakan. Dan beruntungnya lagi, SMAIT membuka gelombang kedua. Aku pun mendaftar, sekalian langsung test. Test masuknya berbeda dengan SMAN 1 Surakarta jika dilihat dari tingkat kesulitan soalnya. Harapan untuk diterima di SMAIT pun muncul. Sayangnya, test wawancara memaksaku untuk jujur bahwa aku telah mendaftar di SMAN 1 Surakarta dan hanya menjadikan SMAIT sebagai cadangan sekolah jika nanti aku tidak diterima di SMAN 1 Surakarta. Memalukan.

Berita yang sempat membuatku cemas adalah pengumuman seleksi gelombang 2 SMAIT yang seharusnya bersamaan dengan pengumuman seleksi masuk SMAN 1 Surakarta diajukan dua hari. Kenapa khawatir? Bukan apa-apa, hanya urusan administrasi sekolah. Tapi ternyata administrasi itu tidak perlu diurus karena aku malah dinyatakan sebagai siswa cadangan di SMAIT. :(

Dua hari setelah itu, SMANSA menerimaku menjadi murid di sana. Alhamdulillah.. Dan esoknya, SMAIT meneleponku, memberitahukanku bahwa aku diterima di SMAIT karena siswa yang sebelumnya diterima banyak yang mengundurkan diri. Hehe, sebenarnya aku tahu akan banyak yang mengundurkan diri karena beberapa dari mereka adalah teman-temanku yang diterima di SMAN 1 Surakarta. Tapi mau bagaimana lagi, hari itu juga aku telah mengurus daftar ulang di SMAN 1 Surakarta.

Jadi, jika ditanya kenapa memililih SMANSA, alasan yang tepat adalah karena memang aku diterimanya di tempat itu.


Read More»»

Thursday, March 3, 2011

Kenapa Aku Memilih SMANSA? [1]

Lu'lu'i Khoirunnisa', seorang adik kelasku di SD bertanya padaku, "Mbak, kok kamu pilih SMANSA kenapa? Kenapa nggak di SMAIT aja?" Hahaha, dia bukan orang pertama yang menanyakan itu sehingga bukan kali pertama juga aku mengemukakan alasanku. Dan akhirnya aku berinisiatif menuliskannya di sini supaya aku tidak perlu susah-susah menjawab pertanyaan mereka, cukup hanya dengan membagi link post ini. :D

Setiap orang memang punya cerita berbeda yang membawanya sampai ke SMANSA. Begitu juga dengan aku. Tiga tahun lalu, saat aku masih berseragam biru putih, dengan jujur aku mengakui aku memang tidak pernah menjadikan SMANSA sebagai satu-satunya pilihanku untuk melanjutkan sekolah. Apalagi sebagai siswa yang telah 9 tahun menuntut ilmu di Sekolah Islam Terpadu, tentu pilihan ini bukan hal yang mudah diambil. Di Sekolah Islam Terpadu, pendidikan agama menjadi yang utama meskipun bukan satu-satunya. Sehingga sangat dikhawatirkan benih yang telah diproses di Sekolah Islam Terpadu terkontaminasi dengan hal-hal buruk di luar sana. Yaah, tahu sendirilah bagaimana dunia sekarang ini ..

Orangtuaku menyuruhku masuk ke sekolah negeri, meskipun pada dasarnya mereka khawatir juga. Jauh sebelum aku menginjakkan kaki di kelas IX, mereka berkata, "Besok masuk SMA 4, ya.." Ya, saat itu mereka lebih menyarankanku ke SMAN 4 Surakarta dengan alasan karena SMAN 4 Surakarta termasuk SMA favorit di Surakarta yang lulusannya kebanyakan sudah pada jadi orang berhasil. Selain itu letak sekolahnya dekat dari rumah sehingga transport lebih mudah. Tapi aku menolak untuk masuk ke sana. Bukan karena aku membantah alasan yang telah kusebutkan di atas, tapi karena masalah pergaulan. Padahal sebenarnya masalah pergaulan tergantung pada individu masing-masing, bisa dibantu juga dengan proteksi orangtua. Tapi, aku terlalu khawatir keadaannya akan njeglek banget.

Ketika aku menginjak kelas IX, aku mulai memikirkan masalah SMA matang-matang. Setelah melalui pertimbangan panjang, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba masuk ke SMAN 1 Surakarta. Banyak kalangan masyarakat menganggap SMAN 1 Surakarta sebagai salah satu sekolah bergengsi di Surakarta dan persaingan untuk masuk ke sana sangatlah ketat. Memang, sih, aku nggak pinter-pinter amat. Tapi aku berpikir, "Nggak ada salahnya kan dicoba?" Setelah mendengar keputusanku, mungkin orangtuaku heran juga, "Wah, nih anak berani banget.." Hahaha.


Kenapa SMAN 1 Surakarta? Apakah karena gengsi? Not at all.
  1. Berharap dapet jalan yang lebih mudah untuk masuk PTN. 
  2. Guru insya allah berpengalaman.
  3. Fasilitas belajar cukup memadai.
  4. Lingkungan belajar insya allah kondusif.
  5. Pergaulannya mending-mending daripada sekolah negeri yang lain.
Saat itu sempat terlintas dalam pikiranku untuk melanjutkan sekolah di SMAN 3 Surakarta yang 'katanya' juga bagus. Tapi orangtuaku berkata, "Oke, kalau nggak mau di SMAN 4. Tapi jangan di SMAN 3. Jauh tempatnya. Kalo mau lajo, nanti kasian kamunya. Kalo mau ngekos, ummi-abi pikir-pikir untuk membolehkan."

Alhasil, mulai saat itu aku punya tujuan untuk meraih SMAN 1 Surakarta. Untuk mewujudkan hal itu, tentunya dibutuhkan nilai Ujian Nasional di atas 90. Akhirnya aku dan teman-teman yang juga bercita-cita masuk SMAN 1 Surakarta les bersama di Ganesha Operation. Tiga hari dalam seminggu pulang maghrib, padahal SMPku pulangnya baru jam 4 sore. Jadi kalau les sering terlambat. Hahaha. Sepulang les masih juga belajar, ndengaren. Baca buku, mengerjakan TOPS, Detik-Detik UN, soal-soal UN tahun lalu, soal-soal try out, dll. Nganti nglotok .. !  Dan sejauh ini, aku belum kepikiran untuk masuk SMAIT. :D

Tibalah saatnya pendaftaran SMAN 1 Surakarta. Hmm, ternyata SMAN 1 Surakarta tidak membuka kelas reguler, hanya kelas SBI. Itu artinya, untuk masuk ke SBI, tidak hanya dibutuhkan nilai UN yang berdaya saing, tapi juga harus mengikuti test (tertulis, psikotes, wawancara bahasa indonesia, wawancara bahasa inggris, dll) serta mengumpulkan nilai rapor semester 1-5 dengan standar nilai yang telah ditentukan. Pokoknya ribet!

Mendengar itu aku sempat down. Kebijakan tersebut adalah kebijakan baru sehingga tidak ada persiapan nilai rapor semester 1-5. Bahasa gampangnya, "Nek mudeng mbukake SBI thok ee mbok kat mbiyen mlebu SMP aku sregep sinau ben biji rapore memenuhi standar.." Tapi alhamdulillah, setelah dicek raporku, nilainya memenuhi syarat mendaftar. Akhirnya perjuanganku lanjuut. Tapi di tengah jalan, aku mulai kepikiran untuk mendaftar SMAIT.

* To be continue ..
Read More»»

Sunday, February 27, 2011

Renungan di Tengah Hujan

Rabu, 23 Februari 2010
Hari itu langit lagi-lagi mendung. Bukan hanya mendung, hujan bahkan turun sebelum aku sempat pulang ke rumah. Karena sore harinya aku ada jadwal les, akhirnya hujan membuatku memutuskan untuk tetap di sekolah sampai jam les sambil menunggunya berhenti.

Aku tidak berada di kelas saat itu karena Pak Yamto, penjaga sekolah, sudah mengunci pintu-pintu kelas. Akhirnya aku dan beberapa teman yang juga menunggu hujan terpaksa menunggu di luar kelas sambil hotspotan. Ada yang bikin tugas, tapi yang nge-game sepertinya lebih banyak jumlahnya. Haha.

"Koe dolanan opo, Jas, Re?" Tanya Armadi Setyo Pambudi alias Mamed.

"Itgirl.."Jawabku dan Rere.

"Opo apik kui? Perasaan yo mung shopping, ganti klambi, golek pacar, ngono-ngono thok. Kok cah-cah sak kelas podo seneng dolanan kui tho?" Mamed berkomentar.

"Apik len. Lha koe ngopo ning kene?" jawabku.

"Aku mau jane karo Hendri, tapi wonge wis mulih. Dadine aku dewekan." kata Mamed.

"Woo, lha cah kae selak pingin dolanan Itgirl og ning omah. Nek cah lanang dolanan ning sekolah kan isin, dadine wonge dolanane ning ngomah .. Hahahha." Kata Rere yang membuat aku dan Mamed ngakak.

"Padakke koe, Re. Wonge ra mungkin dolanan ngene ki. Cah lanang sing dolanan ngene ki paling-paling mung Ogik. Wkwk. Nek Hendri kan sinau terus.." kata Mamed.

"Opo iyo? Mosok sinau terus, bosen nho.." komentarku.

"Perjuangane Hendri ii hebat. Soale cita-citane duwur, dadi dokter." kata Mamed.

Kami speechless. Dokter? Siapa juga yang nggak pingin. Untuk beberapa detik kami sempurna terdiam sebelum akhirnya Rere berani menimpali Mamed.

"Cita-citaku yo dokter, perjuanganku yo hebat len. Bar iki wae aku meh les og." Rere tidak mau kalah.

Mereka masih terlibat dalam percakapan. Tapi aku masih saja terdiam. Rasanya ada kata-kata yang dalam banget. Membuatku berpikir, jika aku benar-benar ingin maka seharusnya aku benar-benar berusaha mendapatkannya. Sementara, apa yang aku lakukan selama ini?
Read More»»

Saturday, February 19, 2011

Hello Panda dan Tori-Tori Cheese

Senin, 14 Februari 2011.
Ini bukan kisah tentang romantika cinta dua orang muda-mudi yang sedang merayakan Valentine Day, melainkan kisah nyata super gila yang terjadi pada suatu sore yang unyuu di LBPP LIA, tempat aku les bahasa inggris.

Sore itu hari gerimis. Sepertinya langit memang sengaja menguji iman kaum muda saat itu. Banyak di antara mereka 'mungkin' menghabiskan waktu sore bersama sang kekasih. Bertukar coklat, bunga, pernak-pernik berwarna pink, terhanyut dalam keromantisan di bawah gerimis.

Tapi tidak denganku. Hari ini aku masih saja terjebak dengan rutinitasku sebagai pelajar SMA. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, aku dan seorang temanku, Nadiyatus Shofi, duduk di bawah rimbunnya beringin LBPP LIA, berkutat dengan rasa lapar kami masing-masing. Padahal kurang lebih satu jam yang lalu kami telah menyempatkan waktu untuk makan di Warung Kangen samping sekolah. Bukan, bukan karena kami cacingan! Tapi karena di hadapan kami terdapat tumpukan roti Wonder yang baru saja kami beli sepulang sekolah. Sayangnya roti tersebut kami beli bukan untuk kami makan, tapi spesial untuk mereka yang menjadi pembicara dalam acara kami, acara anti Valentine Day. :D

Bel pun berbunyi, kami masuk ke dalam ruang kelas kami. Kemudian guru kami memulai pembelajaran.

"In this time, we will work in pairs. In each group, there are 3 members." kata Mr.Iwan, guru les kami.

Murid-murid sibuk mencari partner untuk kelompok mereka. Dan aku tidak merasa perlu untuk mencari partner jauh-jauh, aku mengajak dua orang di samping kanan dan kiriku untuk menjadi satu team. Mereka adalah Ayu dan Sara.

"Oke, Parada. Choose two of your friends to be your partner. I will write their name in the whiteboard." kata Mr.Iwan kepada Parji alias Parada Jiwanggana, teman satu sekolahku juga.

Mr.Iwan menuliskan nama Parada dan kedua temannya di papan tulis. Kemudian Difa, temanku yang lain, berseru, "Mr, itu tulisannya Parada atau Panda?"

"Hmmm, piye lho, Dif. Genah Parada nhok .." balas teman-teman sekelas.

Dan kata-kata Difa tersebut memunculkan ide di kepala kami. Sambil menunggu Mr.Iwan mempersiapkan properti pembelajaran, aku ngobrol bersama teman-teman yang lain. Bukan ngobrol, lebih tepatnya bernyanyi sambil tertawa cekikikan di pojok kelas. Dan tanpa kusadaari, ini bencana!

"Hello Panda, Hello Panda, biskuit isi yang enak. Biskuitnya enak, isinya lezat. Rasa coklat dan Stroberi. Hello Panda Hello Panda biskuit isi yang enak .. " Aku bernyanyi bersama dua temanku, Ayu dan Iis.

Kelas menjadi sangat gaduh. Murid-murid terlibat obrolan yang seru, sedangkan aku, Ayu, dan Iis cekikian sambil bernyanyi tanpa merasa bersalah. Kemudian .. bencana itu datang.

"I won't start this lesson before you finish you bussiness." kata Mr.Iwan pelan dari depan kelas.

Aku yang mendengarnya, segera memberi isyarat kepada teman-teman sekelas untuk diam. Wah, tapi Mr.Iwan justru melihat ke arahku dan berkata, "Hey, six of you. If you don't sing that song in other class, you may go home."

Kelas mendadak hening. Mr.Iwan marah !

"Mr, yang nyanyi cuma mereka. Aku nggak nyanyi." kata Nadiya, Difa, dan Sara, sambil menunjuk ke arahku, Ayu, dan Iis.

"Six of you .." kata Mr.Iwan.

Kami pun melangkah keluar kelas dengan rasa shocked yang tiada terkira. Akhirnya kami masuk ke kelas sebelah. Dan ternyataaa .. Hampir semua di antara kami berenam mendapati teman sesekolah kami yang juga duduk di kelas itu. Aigooo ..

Akhirnya kita menyanyikan lagu Hello Panda di depan mereka yang sebenarnya adalah junior kita. Maksudnya tingkat kelas mereka kebetulan di bawah kita. Tapi komentar mereka tidak disangka-sangka ..

"It's not attractive. It's MONOTON!" kata seorang anak perempuan yang entah namanya siapa.

"Can you sing the other comersial song?" tanya guru di kelas tersebut yang juga menyaksikan kami menyanyi.

"Can you sing Tori-tori cheese? Hahahaha. With the dance !" perintah seorang bernama Bram Galih, dia juga teman satu sekolahku, tapi aku tidak begitu mengenalnya.

"With the dance! With the dance!" mereka berteriak. Ya ampuun, teriakan mereka membuatku gila.

"Hei, but we're asked by Mr.Iwan to sing Hello Panda's song." kataku membela diri.

"Mr.Iwan ask you to sing more than one song .." Bram Galih menyahut.

Dengan terpaksa kami bernyanyi, "Tori, Tori, Tori, Tori Cheese Cracker.. Tori, Tori, Tori, Tori Cheese Cracker.." Dan kami juga memaksa diri kami untuk terlihat bodoh di depan mereka karena kami akhirnya juga menarikan dance Tori Cheese.

Tamat.
Read More»»