Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, December 13, 2011

Menggalaukan Matahari

Hujan bernyanyi di luar sana. Seperti sebuah lagu sendu yang iramanya senada dengan senandung yang mengalun malu-malu di hatimu. Perlahan air itu jatuh memecah sunyi. Hanya dalam sepersekian detik, waktu menjadi riuh, dan akhirnya menjadi gaduh.

Saat itu aku sedang bersama sepi sebelum akhirnya dia terusir riuh. Aku sedang menikmati sore setelah lelah berkutat pada baju-baju setrikaan tiga hari yang sepertinya sedang berlomba dengan gedung-gedung kota untuk menjadi yang lebih tinggi.

Tiba-tiba sebuah sms masuk, dari kawan lama.
"Hati-hati hujan! Menurut ilmu pengetahuan modern, hujan terbukti dapat memicu kegalauan. Apakah Anda galau?"

Aku tertawa. Bagaimana dia bisa tahu? Di sini aku sedang berada di balik jendela. Menunggu munculnya kembali matahari yang sekarang tertutup awan abu-abu. Mungkin kau bertanya matahari yang mana. Boleh ku jawab? Matahari yang sama, Mentari Pelupuk Senja.

13 Desember 2011
16:27
Read More»»

Tuesday, October 18, 2011

Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

W.S.Rendra


Ketika tungku tidak memiliki api dia tak ada gunanya, pun ketika api tidak memilik pematik. Jangan main api, tungkupun bisa terbakar!
Read More»»

Wednesday, September 28, 2011

Malam Lebaran

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Sitor Situmorang


Parafrase Puisi:
Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat-saat penuh kebahagiaan bagi umat yang merasa dirinya beriman setelah berhasil menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tak dapat disangkal, apa pun pangkat, kedudukan, dan status sosialnya, nyaris semua orang tenggelam dalam euforia hari raya itu. Mudik, makan ketupat, parsel makanan, baju baru, silaturahmi, berebut uang fitrah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Benarkan yang demikian ini disebut sebagai hari kemenangan? Dalam puisinya yang berjudul Malam Lebaran, Sitor Situmorang memberikan pandangan yang berbeda mengenai hari lebaran. Dengan kepiawaiannya membangun simbolisme dan kekuatan menciptakan citraan, Sitor berhasil menyampaikan sebuah kritik terhadap kesalahkaprahan masyarakat dalam memaknai hari lebaran.

Beberapa sumber mengatakan, puisi Malam Lebaran ini dilatarbelakangi oleh peristiwa yang terjadi pada malam lebaran ketika Sitor Situmorang hendak pergi ke rumah Pramoedya Ananta Noer. Ternyata ia tersesat. Ketika ia tersesat, ia melihat sebuah tembok putih. Ia penasaran apa yang ada di baliknya. Ia pun melongokkan kepalanya dan berkata, “Oo, kuburan.” Kemudian ia melanjutkan perjalanannya mencari rumah Pramoedya. Rupanya peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam benak Sitor sehingga ia pun mengabadikannya dalam sebuah puisi dan menggunakan simbol-simbol “bulan” dan “kuburan” untuk menjelaskan realita malam lebaran yang terjadi pada kebanyakan masyarakat kita. Kata “bulan” menggambarkan kebahagiaan dan kemeriahan malam lebaran. Sedangkan kata “kuburan” menggambarkan kepedihan kaum tak berpunya yang bahkan bingung harus makan apa pada keesokan harinya. Sehingga frase “bulan di atas kuburan” dapat diartikan sebagai keterasingan kaum tak berpunya di antara meriahnya malam lebaran.

Lebaran tidak semestinya digunakan sebagai momentum untuk berhura-hura. Ada yang terlupa bahwa di balik kemeriahan malam lebaran, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada hari bahagia itu. Mereka tidak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan memaksa mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam kamus hidup mereka. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu, sepeti menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Pada hari itu, kita juga berpisah dengan bulan yang seharusnya menjadi bulan yang kita nantikan kedatangannya. Kapan lagi kita dapat menemukan bulan di mana setan-setan dibelenggu, pahala diobral besar-besaran, pintu surga dibuka lebar-lebar, serta pintu neraka ditutup rapat-rapat? Bukankah seharusnya kita bersedih?

Ramadhan bukan sekedar bulan di mana kita, sebagai orang beriman, diwajibkan menahan lapar dan dahaga. Pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kita dapat memperoleh rahmat Allah. Mereka yang ingin mendapatkannya berlomba-lomba meningkatkan amalan baiknya. Pada sepuluh hari kedua, ampunan Allah diturunkan ke bumi. Dan pada sepuluh hari terakhir, ada satu malam yang jika kita mendapatkannya maka kebaikannya sama dengan amalan selama seribu bulan. Malam ini biasa disebut Lailatul Qadr atau disebut malam pembebasan dari siksa api neraka.

Yang lebih sering terjadi di masyarakat kita, justru bukan tangisan sedih ditinggal bulan ramadhan. Pada malam lebaran, hal-hal yang bersifat keduniawian justru semakin penuh sesak. Pasar tradisional, toko sembako, mall-mall, hingga jalan raya, tidak pernah sepi dari hiruk pikuk manusia. Nyaris sama dengan sesaknya hati kaum tak berpunya yang tidak tahu harus membelanjakan apa untuk hari raya pada keesokan harinya.

Kekontrasan tersebut seharusnya berganti dengan renungan dan doa-doa panjang sebagai wujud pengharapan atas ampunan Allah. Itulah yang disebut dengan sebenar-benarnya hari kemenangan, ketika umat manusia berhasil mengalahkan hawa nafsunya dan meningkatkan kualitas diri. Bukan tetap sama saja, sibuk dengan urusan dunia.

Read More»»

Saturday, September 17, 2011

Kita: Butir Pasir

Kita batu yang melapuk
Hanya butir pasir berserak di hamparan zaman
Mengepak sayap dalam hembusan angan
Itulah kita!
yang mengepung diri dalam fana

Kita batu yang melapuk
Hanya kehinaan yang berbangga diri
Letih tertatih dalam takdir
Beginilah kita!
Yang sengaja terjebak dalam fatamorgana

Kita butir pasir yang bodoh
Hanya sosok buta yang mengembara
Meraba-raba di manakah sebenarnya muara?
Read More»»

Saturday, September 10, 2011

Mentari Pelupuk Senja

dia masih saja sama
seperti mentari melambai di pelupuk senja
menyisa dingin di antara gelap gulita


9 September 2011

Read More»»

Sunday, March 6, 2011

Sajak Cinta

Akulah selembar daun yang sengaja menjatuhkan diri; berharap kau mengerti itu bahasa rinduku. Dan caraku menyetuhmu.


Demi waktu dan segala sesuatu yang berkaitan dengan rindu, aku ingin sekali menyapamu, walau dengan isyarat yang tak kautahu.




Kenangan, adalah cermin, yang di dalamnya melulu bayanganmu.


Sesunyi apapun malam, kenangan selalu mampu meramaikan ingatan.


Kau sembunyikan bulan di matamu, sehingga setiap kelopak matamu terbuka, malam begitu benderang di mataku.


Pasti akan kukisahkan padamu tentang sepi yang agaknya, mulai menggugurkan rindu: daun-daunnya yang menguning, jatuh satu-satu.


Aku merindukanmu seperti denyut jam, yang terlalu lambat menghampiri senja.


Kau tahu, aku selalu ingin berbincang denganmu, meski hanya sekedar menanyakan hal-hal yang telah aku tahu.

Aku tidak mengerti, bagaimana cara Tuhan membuatku merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki.


Aku tengah sibuk mengemasi masa lalu, ketika tibatiba terdengar ketukan di pintu. Kenanganmu.


Ternyata rindu itu bilangan ganjil yang tak pernah habis dibagi bilangan apapun, kecuali oleh bilangan pertemuan.


Jika cinta selalu terlupa cara membasuh luka, mungkinkah senja juga lupa cara menenggelamkan dirinya?

Diambil dari twitter @sajak_cinta
Read More»»

Sunday, February 13, 2011

Kau

Hei, selama kau pergi ..
Kau tau ?
Ada yang selalu berdiri di sini malam-malam
Menatap rembulan lamat-lamat
Berharap menemukan wajahmu ..

~ Tere Liye / Bidadari-Bidadari Surga ~
Read More»»