Wednesday, January 29, 2014

Setahun Kenangan [part 2]

2013
Dengan tekad kuat untuk masuk Pendidikan Dokter, semua jalur masuk aku coba, kecuali jalur haram tentunya. Bahkan aku juga mencoba menembus perguruan tinggi swasta (PTS).

PTS yang aku coba pertama kali adalah PTS dengan Pendidikan Dokter berakreditasi A yang ada di Jogja. Seleksi di sana cukup ketat, bahkan terkenal 'ngeri' dibandingkan dengan PTS yang lain. Alhamdulillah, untuk kali ini aku merasa Allah begitu melancarkan jalanku. Aku diterima di PTS tersebut.

Tidak berhenti hanya diterima di PTS, aku tetap melanjutkan perjuangan untuk diterima di PTN. Bukan karena prestis, melainkan karena biaya kuliah di PTS yang tentunya jauh lebih banyak.

Hari demi hari berjalan, sampai akhirnya bulan Mei pun datang. Aku mengikuti sebuah try out untuk pertama dan terakhir kalinya di luar try out dari bimbel, yaitu try out SKELETON di FK UNS. Hasilnya mencengangkan. Di antara 800an manusia yang ikut, aku peringkat 5. Bagimu mungkin itu biasa. Tapi tidak bagi seorang yang merasa dirinya kasta terendah.


Tiket Try Out *nama sengaja nyamar*

Peringkat 10 besar
Tujuan hidup pun berubah. Aku yang sekian tahun lalu pernah mengubur dalam-dalam cita-cita menjadi mahasiswi UGM pun mulai berpikir, "Apakah Allah akan mengganti kegagalanku masuk UNS dengan tempat yang lebih baik seperi UGM?"

Setelah konsultasi panjang dengan seorang tentor SSCi, istikhoroh berhari-hari, masukan dari ummi dan teman-teman, serta motif balas dendam atas kegagalan tahun lalu, aku memilih tiga prodi Pendidikan Dokter di tiga PTN berbeda.
  1. Pendidikan Dokter UGM
  2. Pendidikan Dokter UNS
  3. Pendidikan Dokter UNPAD
Ini keputusan sedikit gila bagi penilaian sebagian besar orang. Aku tahu aku tidak merasa cukup mampu, bahkan aku pun kadang ngeri sendiri. Tapi itulah pilihanku.

Di try out terakhir SSCi, kebetulan aku peringkat 1 dengan nilai 57%. Kalau bicara passing grade, passing grade Pendidikan Dokter UGM adalah 58% di SSCi. Dan menurut cerita beberapa teman yang sudah diterima di PTN sesuai cita-citanya, biasanya mereka yang tidak lulus pilihan 1 di try out akan lulus di ujian yang sebenarnya karena tingkat kesulitan soal di try out lebih tinggi daripada di ujian. Berdasar pada teori senior itulah aku menjadi lebih percaya diri. Optimis.

Tapi...kenyataan sedikit berbeda dari prediksi. Qodarullah, aku diterima di Pendidikan Dokter UNS. Untungnya ketika itu aku sudah pasrah sebesar-besar pasrah yang aku bisa. Aku tidak penah mendikte Allah untuk membuatkanku takdir aku diterima di PTN. 

"Ya Allah, berikanlah aku hasil terbaik. Lapangkanlah hatiku untuk menerima apapun keputusan-Mu."

APAPUN. Entah PTS, entah PTN. Entah itu UGM atau bukan, jika Allah menganggap tempat itu paling baik untukku, aku berharap aku bisa lapang hati menerima takdir tersebut. Meskipun aku ingin sekali diterima di UGM, tapi diterima di UNS pun aku sangat senang, terharu, merasa beruntung. Tapi tidak terlalu bangga, tidak down, tidak sedih. Hanya bersyukur.

Sejak kegagalan tersebut aku jadi tahu bahwa semua benar milik Allah. Jika Allah berkehendak kita menerima titipan itu, sekalipun kita sangat tidak ingin menerimanya, kita akan menerimanya juga. Itulah yang menjadi pukulan keras untukku karena sebelumnya aku selalu menganggap benar teori klasik, "Jika kita berusaha, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan." Ternyata, tidak semua kasus mengaplikasikan teori ini.


Dan lagi, semenjak kegagalan itu, aku tidak pernah membandingkan lagi diriku dengan orang lain. Karena membandingkan diri kita dengan orang lain akan membuatmu meremehkan orang lain, atau membuat dirimu merasa inferior, atau membuatmu terlalu cepat berpuas diri. Aku  bisa saja berjalan di tengah orang yang berlari. Kenapa harus takut? Aku bisa berlari lebih cepat jika aku mau.


Satu teori baru yang aku rumuskan sendiri setelah kegagalan itu, "Terkadang kita harus jatuh ke titik paling rendah untuk tahu seberapa hebat diri kita."


Asalkan itu tidak salah, lakukan sesuai kata hatimu. Tutup telingamu. Jangan dengarkan segala 'underestimate' dan 'pressure' di sekelilingmu. Pakai saja matamu untuk melihat ke depan mimpi-mimpi yang pernah kamu tata rapi dalam doa-doamu. SEMANGAT.
Read More»»

Sunday, September 15, 2013

Setahun Kenangan [part 1]

Postingan ini spesial dibuat atas request dari Lu'lu'i Khirunnisa. Jujur aku tidak menganggap ini kisah perjalanan yang perlu ditulis karena setiap orang pasti mempunyai moment seperti ini dalam hidupnya. Cerita ini terlalu biasa. Klise. Berusaha dalam meraih apa yang dia inginkan. Kemudian dia gagal. Lalu berusaha untuk bisa berusaha lagi.
2012
Perkenalkan, aku adalah orang yang bercita-cita menjadi dokter. Kalau dibuat sistem kasta di sekolah, mungkin aku salah satu penghuni kasta terendah. Kecerdasan pas-pasan, sering kena remidi, jarang dapat nilai tertinggi, tidak aktif dalam pembelajaran di kelas, bukan organisator, pemalu, suka rendah diri. Cupu bukan? But, that's the real me.

Umurku 18 tahun. Kegagalan terbesar sepanjang 18 tahun hidupku adalah ketika SNMPTN tulis 2012. Di hari pengumuman itu, aku resmi ditolak di Pendidikan Dokter UNS dan Pendidikan Dokter Gigi UGM.

Aku mengurung diri di rumah. Mengutuk takdir Allah. Sejenak menjadi kufur nikmat. Aku membuka jejaring sosial, berpura-pura jujur pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Mendadak menjadi gila. Seakan-akan hidupku berhenti saat itu. Masa depanku terlalu suram sehingga aku menganggapnya tidak ada. Alay? Iya sih. Intinya, aku begitu terpukul dan putus asa.

Banyak teman bersimpati dan berusaha menguatkanku. Tapi semua mendekati tidak berguna. Karena aku tahu, mereka tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya. Begini nih, kata mereka.
"Semangat ya, Yas. Kamu pasti bisa. Insya Allah ini yang terbaik buat kamu."
Dan setelah itu, mereka pasti bertanya sesuatu yang jawabannya makin membuat suasana penuh duka.
"Lha trus rencana ke depanmu pie? Kuliah di mana?”
Dengan sisa-sisa semangat yang aku punya, aku mulai berharap aku bisa menjadi mahasiswi Pendidikan Dokter melalui jalur-jalur yang tersisa. Tapi ternyata aku juga gagal di swadana UNS, UM UNDIP, dan SIMAK UI. Apa boleh buat. Dengan usaha melapangkan hati yang maksimal, aku harus memilih jalan satu-satunya yang aku punya sejak awal, Kebidanan UNS. Ya, saat itu aku calon bidan. Calon bidan yang belum bisa melupakan cita-citanya. *haish* 

Kalian tahu rasanya? Saat itu tekanan dari luar begitu kuat tepat ketika dirimu begitu rapuh dan sedang ingin menguatkan diri. Yaaaap. Aku mendengar banyak cibiran.
“Lhooo pie tho? Mosok ibuke dokter umum anake bidan? Yo mbok spesialis.”
"Realistis wae lah. Nek misal koe ra mampu yo wes golek wae jurusan liyane. Allah paling tau yang pas buat hamba-Nya."

Halo sobat. Cita-cita saya tidak sebesar membuat kehidupan di planet pluto, saya hanya ingin menjadi dokter. Saya anak SMA dan saya masuk jurusan IPA. Ada yang salah dengan jalan yang saya ambil?

Karena takut menyesal seumur hidup, akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengulang ujian tulis SNMPTN tahun depan. Bersama seorang sahabat dari Kebidanan UNS yang kebetulan juga teman satu les di LIA, Anisa Hasanah, aku muter-muter cari info bimbel di Solo yang pas dengan jadwal kuliah. Dan .... Jeng jeng jeng jeng! Aku menemukan SSCi.

Kampus SSCi letaknya hanya beberapa meter dari SMAku dan tidak jauh dari kampus Kebidanan UNS. Selain lokasinya yang familiar untukku, SSCi juga mudah dijangkau dari kampus. Jadi kalau ada jam kosong bisa ngacir ke SSCi. 

Di SSCi aku menemukan keluarga. Daripada menyebutnya sebagai tempat bimbel, aku lebih merasa SSCi adalah rumah kedua. Tentornya ramah dan akrab membuat mereka seperti kakak sendiri. Tempatnya nyantai seperti di rumah. Temennya gokil tapi serius belajar, membuat suasana menjadi konsusif dan kompetitif. Cara belajarnya pun bukan cara belajar zombie yang hanya datang, duduk, mendengarkan, nyatet, pulang.

Di sana aku diberi semacam terapi psikologis (atau apalah namanya) oleh Mas Enha, guru besar fisika, untuk mengembalikan semangat belajarku yang belum bisa kembali seperti dulu. Kadang sekelebat muncul pikiran, "Udah capek-capek usaha nanti kalau gagal lagi trus kecewa lagi gimana?" Yah, mungkin masih ada efek trauma akan kegagalan. Dan Mas Enha bilang,
"Saiki ngene wes. Kalo kamu malas belajar, apa pantes kamu jadi dokter?"
Mulai hari itu aku mantes-manteske diri untuk bisa lolos di SNMPTN tulis tahun depan. Mulai mencoba semangat lagi. Belajar lagi. Dari nol. Dari persamaan kuadrat, struktur atom, GLB dan GLBB, virus. Memulai dari yang paling sederhana yang mungkin waktu itu aku merasa sudah memahaminya.

Waktu itu aku juga hang out ke XXI bersama Rere dan Kikik. Rere bilang,
"Mungkin kita dibuat gagal sama Allah karena kita waktu itu terlalu sombong. Kurang doa. Suka nge-underestimate orang. Liat aja sekarang. Si X, si Y, si Z, sing biasane ning try out bijine pas-pasan iso mlebu Pendidikan Dokter UNS."
"Dan saiki ojo mikir sing negatif meneh. Ojo ngomong, 'Ngko nek ra ketompo meneh pie?' Tapi ngomongo, 'Yo dongakke wae mugo-mugo ketompo.'"
Semangat itu mulai ada. Dan aku mulai berbenah diri. :)
Read More»»

Thursday, July 4, 2013

Merah Muda yang Sederhana

Aku melihat sebait tulisanmu pagi ini. Kubaca. Maka sekali lagi itu benar, huruf tidak pernah sekedar menjadi kata jika kau yang menulisnya. Sesederhana apapun itu, selalu hadir makna bahkan dalam setiap spasi-nya.

Kamu muncul sekelebat dalam pikiran. Ya, sekelebat-sekelebat saja, tapi selalu.

Dirimu yang aku sebut adorable tapi undefined, psikotropika yang diabaikan oleh para ilmuwan. Apakah kau punya sebutan untuk ini? Ini adalah bagian dari sebuah warna tak disengaja. Merahku dan putihmu, yang entah kapan tercampur menjadi gradasi baru, merah muda yang sederhana.


Read More»»

Monday, December 3, 2012

Teddy Bear ^^

This is one of the cutest thing that makes me envy. Yap, TEDDY BEAR. ^^ I want it so much. Anyone, who want to buy a teddy bear for me? Aaaaak. Unyu. >.<








They are cute. I am beautiful. We are a matched couple, right? Hihi.
Read More»»

Monday, November 5, 2012

Berbenah

"It still hurts after 3 months. Whenever someone talks about it. It was the first time thing didn't work out like I had planned. You know yas, anything related to 'it' can be very sensitive after that day. People might judge you, talk behind you or talk in front of you without knowing how much you suffer of losing 'it', after many months of working hard to keep 'it'. The pressure keeps going on even after you've chosen the remain option, like no failure would be acceptable for those people just because you never fail before :')."
- Elfrieda Rahma -


Kata-katanya Elprid aku banget .. :D

3 bulan berlalu setelah hari itu, tapi mindset belum juga berubah. Aku jadi merasa menjadi orang dengan progress paling stagnan. Sementara teman-temanku sudah bisa kembali menjadi orang-orang yang semangatnya selalu mengagumkan. #kangen

Seperti daun yang baru saja gugur dari pohon, akhir-akhir ini aku kehilangan kemampuan untuk mengontrol arah dan tujuan. Terbawa angin, dihembus ke mana pun aku tidak mampu melawan. Beginilah cerita saat kamu berjuang sendirian melawan arus. Tidak ada kontrol lain selain kontrolmu sendiri.

Ini yang disebut dengan fase futur kronis. Bingung berat di mana sebenarnya aku bisa menemukan kembali 'semangat' dan 'fokus'. Ayo berbenah! Jangan menyiakan kesempatan kedua. Semangat! :)
Read More»»

Sunday, October 14, 2012

If You're Not the One - Daniel Bedingfield



Ibarat bisa ular, lagu ini bener-bener punya racun mematikan. Bisa melumpuhkan pikiran, terutama buat para galauerz sejati. Makanya, jangan berani muter lagu ini pas lagi galau, sama aja cari mati! Trust me. Karena biarpun hanya diputer sekali, efeknya juga nggak akan habis meskipun kamu langsung tilawah 1 juz al-qur'an non stop. SUER.

So, give the biggest applause for the creator of this song and the singer as well. You absolutely drive me crazy !! >.<
Read More»»

Monday, March 19, 2012

Penyakit Langka di Dunia

Bagi yang masih sering kufur nikmat, mari sejenak kita tengok beberapa fenomena-fenomena di bawah ini. Fenomena langka yang kita perlu tahu.


  • Elephantiasis atau Filariasis atau kaki gajah adalah jenis penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Wuchereria brancoftiSetelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit. Apabila tidak segera melakukan pengobatan, makan akan terjadi kecacatan permanen berupa pembesaran kaki, lengan, atau alat kelamin. Penyakit ini bukan penyakit mematikan, tetapi tentunya akan mengganggu aktivitas sehari-hari.


  • Progreria adalah penyakit akibat mutasi atau kesalahan kode genetik pada kromosom nomor 1. Penderita akan terlihat 4-5 kali lebih tua dari usia sebenarnya, tubuh kurus, kulit keriput, pertumbuhan gigi terlambat, gerak tubuh terbatas, dan biasanya penderita hanya dapat hidup hingga usia 13-14 tahun.

  • Epidermodysplasia verruciformis adalah penyakit kulit langka yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus. Virus ini menyerang kulit manusia dan dapat menyebabkan kanker. Ditandai dengan adanya kutil pada kulit.  Pada kasus Dede si Manusia Akar yang memiliki kelainan genetik  dan jaringan sel darah putih yang lemah, virus yang menggerogoti berkembang ganas dan pertumbuhan kutil terus membesar.
Dede, si Manusia Akar
  • Werewolf Syndrome atau Hipertrikosis, seperi namanya penyakit ini adalah penyakit dengan pertumbuhan rambut yang tidak terkendali di tempat-tempat abnormal. Penyakit ini merupakan penyakit genetis yang tidak dapat dihindari.

  • Stevan Johnson Syndrome adalah penyakit dengan risiko kematian yang tinggi yang disebabkan karena alergi terhadap obat tertentu. Penyakit ini ditandai dengan demam, sesak napas, batuk, diare, mengelupasnya epidermis, conjungtivitis pada mata, sariawan di seluruh permukaan lidah bahkan hingga ke kerongkongan.

  • Ecrotizing fasciitis atau penyakit makan daging adalah penyakit mengerikan yang menyebabkan lapisan kulit membusuk. Penderita akan mengalami rasa sakit yang hebat di daerah yang terinfeksi, yang menyebabkan bengkak, kulit merah dan pada akhirnya akan melihat kulit mereka membusuk. Necrotizing fasciitis dapat memasuki tubuh dengan mudah melalui luka atau memar. Satu-satunya pengobatan yang sukses adalah menghilangkan jaringan yang terinfeksi atau dengan kata lain dilakukan amputasi. 
  • Ichthyosis adalah  kelainan kulit genetik yang ditunjukkan dengan kulit kering, terkelupas atau bahkan bersisik. Dalam kasus yang parah, kulit penderita dapat menyerupai kulit ikan. 

Demikian tadi beberapa penyakit langka di dunia. Pernahkah kita membayangkan diri kita menjadi salah satu di antara manusia langka tersebut? Bagi yang masih sering merasa tidak puas dengan pemberian-pemberian Allah, ambil cermin dan lihatlah betapa beruntungnya kita. :)
Read More»»

Wednesday, January 25, 2012

Ayu Sholikhah

This is a special post for my special friend, Ayu Sholikhah, who has helped me to find the way out from that deepest GALAU. Thanks for Ayuk. Without her, maybe I am still confused whether I should continue this struggle or just being a loser who always keep the fears and cannot be brave to make a dream.

Dulu aku mengenalnya hanya sebatas 'dia', penghuni kelas tetangga ketika kelas X. Kerap bertemu, tapi tak tahu nama. Galak, ketus, sinis, preman, tomboy, dan lain-lain. Begitulah kiranya gambaran umum sosok ayuk bagi seorang aku saat itu.

Di kelas XI, kami pun satu kelas. Dan akhirnya aku tahu namanya Ayu Sholikhah. Tapi aku mengenalnya hanya sebatas Ayu Sholikhah.

Di kelas XII, aku mulai mengenalnya sebagai lebih dari seorang Ayu Sholikhah. Dia adalah anak perempuan beraura laki-laki yang bergolongan darah O, tidak suka diatur, ambisus, idealis, pecinta Hitler, cerita sejarah, fisika, Einstein, Julia Peres, suka nyanyi padahal suaranya unyu, dan satu lagi yang menonjol dari dia adalah bakat ngegombalnya. Dia juga ternyata mirip Mario Teguh Golden Ways. Di otaknya tersimpan ribuan kata motivasi yang bisa terlontar sewaktu-waktu, tanpa diminta sekalipun. Dia juga mirip penjaga pantai, pantai KEGALAUAN. Dia siap siaga mengawasi mereka yang bermain-main dengan mimpi, lalu terhanyut dalam gelombang ombak kegalauan.
#sori yuk, lebai.

Suatu hari di pelajaran matematika Bu Yayuk, program linear, dia mendekatiku. Lalu kami terlibat percakapan.
"Yas, apa kabar kedokteranmu?"
"Nggak tau yuk. Aku udah yakin pingin ambil kedokteran. Tapi  bingung mau di UNS atau UGM. Aku pingin ke UGM. Tapi tau sendirilah aku kayak gimana, UNS aja mungkin ketir-ketir, mana berani aku pilih UGM?"
"Udah gak ada waktu untuk galau. Mulai sekarang tentuin tujuanmu. Kalau kamu berani KU UGM, jangan lihat yang lain. Fokus! Sejatuh-jatuhnya kamu, jangan lagi tengok ke belakang. Jalan terus!"
 "Kalo aku gak berani?"
"Kenapa gak? Asal kamu tau Yas, mereka yang dapet tempat di UI, ITB, UGM, bukan cuma mereka yang pinter. Tapi mereka yang punya tekad kuat. Banyak anak yang bahkan peringkat bawah-bawah di kelas tapi bisa diterima di UI, ITB, UGM. Karena apa? Karena mereka fokus dan punya semangat."
JLEB! Kalau bukan karena ada Bu Yayuk yag lagi ngajar di depan kelas, aku mungkin udah nangis di depan Ayuk waktu itu. Sejak saat itu, aku berani ambil pilihan.

Di lain waktu, dia juga pernah bilang,
"Jadikan mimpimu nyata 5cm di depan matamu."
JLEB! Lagi-lagi dalem banget.

Dan tadi sore, waktu belajar bareng di kosnya Elprid, pas lagi serius-seriusnya ngerjain persamaan kuadrat, dia tiba-tiba bilang,
"Hey, cah. Gimana kalo besok pas kuliah aku gak bisa nemu temen kayak kalian?"
JLEB!!
Read More»»

Wednesday, January 4, 2012

Mencintainya adalah Sulit

Sore itu, ditemani oleh gerimis dan air mata aku bercerita pada-Mu tentang cinta yang ku simpan diam-diam. Mencoba mengingat dari mana dan bagaimana cinta ini bermula hingga sekarang harus menjadi seperti ini. Tapi sayang, aku tidak menyadari bagaimana awal mula semuanya. Yang kuingat adalah tiba-tiba aku mendapati diriku mulai ingin tahu segala tentangnya, menuliskan namanya di kertas-kertas kecil, lalu mulai berani memampang namanya secara jelas di dinding kamar, dan sekarang mulai sering ku sebut dalam doa-doa panjangku kepada-Mu.

Ya Allah, mengapa mencintainya adalah sulit?

Tanggal 26 Desember 2011

Jika memang kita berjodoh maka tulisan ini menjadi saksi beratnya perjuangan mendapatkan cintamu. Akan tetapi, jika takdir mempertemukanku pada yang lain, maka tulisan ini akan menjadi sejarah bahwa aku pernah mencintaimu.


Colomadu, 4 Januari 2012
17:08
Read More»»

Thursday, December 22, 2011

Waktu: Detik dan Detak

Suatu hari di masa lalu, aku dan kau bercengkrama. Kau bertanya padaku, "Menurutmu, apa itu waktu?" Aku terdiam beberapa lama dalam tanda tanya. Kau pun juga.

...

Kemudian tempo hari, kau (lagi-lagi) mengesankanku. Katamu, waktu berbicara bukan tentang lamanya jam berdetik, tapi tentang seberapa lama jantungmu sanggup berdetak.

...

Sejak saat itu aku tahu, kau adalah orang yang tidak akan pernah membiarkan jantungmu berdetak sia-sia, karena bagimu waktu adalah detak jantungmu. Kau rela lakukan apapun bahkan ketika jam dinding telah berkali-kali meyakinkanmu bahwa hari telah larut.

...

Tahukah kau? Kau membuatku juga mengabaikan jam dinding malam ini, meski sebenarnya aku pun tak ingin. Entah kenapa. Yang jelas, sejak kudengar kabar kau sedang tidak baik-baik saja, mataku mendadak bandel, tidak juga segera ingin beranjak tidur.

Colomadu,  22 Desemer 2011
00:25
Read More»»

Tuesday, December 13, 2011

Menggalaukan Matahari

Hujan bernyanyi di luar sana. Seperti sebuah lagu sendu yang iramanya senada dengan senandung yang mengalun malu-malu di hatimu. Perlahan air itu jatuh memecah sunyi. Hanya dalam sepersekian detik, waktu menjadi riuh, dan akhirnya menjadi gaduh.

Saat itu aku sedang bersama sepi sebelum akhirnya dia terusir riuh. Aku sedang menikmati sore setelah lelah berkutat pada baju-baju setrikaan tiga hari yang sepertinya sedang berlomba dengan gedung-gedung kota untuk menjadi yang lebih tinggi.

Tiba-tiba sebuah sms masuk, dari kawan lama.
"Hati-hati hujan! Menurut ilmu pengetahuan modern, hujan terbukti dapat memicu kegalauan. Apakah Anda galau?"

Aku tertawa. Bagaimana dia bisa tahu? Di sini aku sedang berada di balik jendela. Menunggu munculnya kembali matahari yang sekarang tertutup awan abu-abu. Mungkin kau bertanya matahari yang mana. Boleh ku jawab? Matahari yang sama, Mentari Pelupuk Senja.

13 Desember 2011
16:27
Read More»»

Saturday, December 3, 2011

Why Indonesian High School Students are Stressed Out

No one can deny that studying becomes an important thing to do. It is not an activity that can be chosen, but it becomes a compulsory for all students arround the world. In this globalization era, especially in Indonesia, a tight competition to get a good school, good university and decent job makes Indonesian students have to make a hard effort if they really want to get it. After graduating from high school, the competition is tighter than before. As a result, Indonesian high school students are demanded to study harder and harder because they have to be ready to face the tight competition in their future. Some of them do not consider it as a burden, but some others feel so stressed out. I believe that stress faced by Indonesian high school students is caused by some reasons.

First, many Indonesian high school students feel stressed out because of the enormous demands from surroundings. For example, competition with other students in the same school to take a program such as science and social class that they prefer makes the students have to study hard. After entering the program that they prefer, they still have to face a tight competition to be accepted in a good university. It also needs a hard effort. Some parents also make a high score target for their children because they think that high score can absolutely make their children successful in the future. They think that the high score will help their children to get a good university after graduating from high school. To help the students to get a good university, some teachers also give many assignments and encourage the students to get a good result. It can be a burden for students because they have too many things to think so that they become stressed out.

Second, stress faced by Indonesian high school students is caused by the tight schedule that the students have. Students have to go to school early and go home late because of some school activities, such as additional lessons and extracurricular activities. After school, some students also have to join a course. They almost go home late everyday. After having a course, even though they have been tired, they have to prepare for the next day school activities, such as homeworks, examinations, presentations, and etc. Because of that tight schedule, students find a difficulty to manage their time wisely. Some of them are getting sick and frustated easily.

Third, the students are also stressed out because of their own pshycological condition. As we know, life is more complex than books, theories, and good scores. Some students also have problem that must be solved. Maybe they have problem with their family, friends, teachers or others. Sometimes, the students are afraid with their teacher. This condition is absolutely bad because it can make them difficult to digest what the lesson. It is frustating for them because they have to understand the materials to get a good score but they can’t digest the materials. As a result, they don’t have any confidence and feel desperate to learn.

In conclusion, tight schedule, demands for high score from teacher and parents, and student’s phsycologycal condition can be such burden for some Indonesian high school students. It causes the students get difficulties in studying. Those difficulties can make them feel desperate and then being stressed out.

Read More»»

Tuesday, October 18, 2011

Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

W.S.Rendra


Ketika tungku tidak memiliki api dia tak ada gunanya, pun ketika api tidak memilik pematik. Jangan main api, tungkupun bisa terbakar!
Read More»»

Sunday, October 2, 2011

Kitaro - Matsuri (SCIFO moment)



Pas kelas XI dulu, entah tanggal berapa, SCIFO pernah main instrument Kitaro-Matsuri untuk ujian seni musik.
How beautiful it was ! :)
Alat musik yang kita gunakan dulu cuma drum, jimbe, pianika, recorder, gitar, keyboard, dan marakas. Sederhana, tapi mengena.

Awalnya ada anak yang cuma iseng-iseng dengerin lagu ini di komputer kelas. Trus tiba-tiba tercetus ide untuk memainkan lagu ini untuk ujian seni musik. Siip. Akhirnya dilakukan pendataan alat musik apa yang dimainkan. Setiap anak memainkan minimal satu alat musik. Setelah selesai didata, notasi demi notasi pun disusun, sesuai dengan alat musik yang akan dimainkan.

Diawali dengan drum, yang dimainkan oleh Andi. Kemudian dilanjutkan dengan permainan jimbe oleh -ketoke sak elingku- Hasan, Beny, Bayu, Sony. Baru setelah itu pianika. Yang main pianika jumlahnya paling banyak. Jadi pianika dibagi menjadi tiga regu, regu chord, suara 1, dan suara 2. Perpaduan yang indah terletak pada reff ketika pianika (baik chord, suara 1, maupun 2) berkolaborasi dengan merdunya suara recorder. Wah wah wah. Setelah itu kita dengerin Astrid ber-solo keyboard. Bagusnya melebihi Kevin Vierra. *eh

Endingnya klimaks banget. Nggak bisa diceritain di sini. Seandainya waktu itu ada yang ngerekam, udah pasti sejak dulu aku abadikan dalam catatan ini. Sayangnya, NGGAK ADA.

Tapi aku nggak bakal lupa gimana sensasinya ketika memegang tuts pianika dan teriak "SCI-F0-SCI-FO-SCI-FO .. !" di akhir lagu. Rasanya berkesan banget.
Read More»»

Wednesday, September 28, 2011

Apa Itu Buta Warna?

Buta warna, seperti namanya, merupakan sebuah penyakit -lebih tepat disebut kelainan-, yang menyebabkan seseorang tidak mampu membedakan warna. Masyarakat sering salah kaprah mengenai penyakit ini. Banyak yang mengira penderita buta warna hanya mampu menerjemahkan warna hitam dan putih saja. Padahal sebenarnya penyakit ini diklasifikasikan menjadi beberapa tipe buta warna, di antaranya:

  1. Monokromasi, tipe inilah yang paling dikenal oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.
  2. Dikromasi, yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Dikromasi dibagi menjadi 3, yaitu:
    • Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang.
    • Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
    • Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
  3. Trikomasi, yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:
    • Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah.
    • Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderit.
    • Trinomali, kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
Mengapa bisa terjadi?
Faktor utama terjadinya buta warna adalah faktor genetis, di mana sifat-sifat buta warna itu mau tidak mau menurun sejak manusia itu lahir dan akan diturunkan pula ke generasi penerus mereka. Sifat-sifat ini berupa genotipe (sifat yang tidak tampak dari luar) yang akan dimanifestasikan ke dalam fenotip (sifat yang tampak dari luar). Manusia memiliki 46 kromosom, yang tersusun atas 44 autosom dan 2 gonosom. Gonosom XX untuk perempuan dan XY untuk laki-laki. Autosom maupun gonosom inilah yang akan membawa sifat-sifat tersebut.

Laki-laki dan perempuan memiliki autosom yang sama, baik dari segi jumlah maupun jenis. Oleh karena itu, apabila suatu sifat dihantarkan melalui autosom, maka laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan maupun tidak mendapatkan sifat tersebut.


Lain halnya apabila gonosom yang membawa sifat-sifat. Seperti yang kita ketahui, laki-laki dan perempuan memiliki gonosom yang berbeda, yaitu laki-laki XY dan perempuan XX. Oleh karena itu, apabila suatu sifat terkait dengan kromosom tertentu, misalnya X, maka sifat tersebut akan lebih mudah diturunkan pada laki-laki, karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Dan akan diturunkan pada perempuan apabila kedua kromosom X menggandeng sifat-sifat tersebut. Apabila hanya salah satu kromosom X-nya yang membawa sifat-sifat tersebut, maka penurunan sifat belum tentu terjadi. Kebanyakan hanya akan membuat perempuan tersebut menjadi carrier atau pembawa sifat. Ia tidak mendapatkan sifat tersebut secara fenotip, namun akan menurunkan sifat tersebut pada anaknya. Dan apabila sifat tersebut terkait dengan kromosom Y, dapat dipastikan sifat tersebut tidak akan diturunkan pada perempuan, yang notabene kedua kromosomnya adalah X.


Namun dalam kasus buta warna, buta warna diturunkan oleh kromosom X. Mungkin penjelasan yang rumit di atas dapat dipersingkat melalui penjelasan dalam gambar di bawah ini:


Karena itulah buta warna lebih sering ditemukan pada pria (7-8%) daripada wanita (0.4-0.5%). Seorang ayah yang buta warna dapat memiliki anak perempuan normal yang pembawa buta warna ataupun anak laki-laki yang buta warna. Apabila wanita pembawa buta warna menikah dengan pria normal sekalipun, ia masih mungkin memiliki anak laki-laki yang buta warna. Anak perempuan buta warna hanya mungkin dihasilkan dari ibu pembawa buta warna dan ayah yang buta warna.


Bagaimana buta warna dideteksi? 
Buta warna yang dibawa secara genetis biasanya baru diketahui ketika anak sudah mulai agak besar, yaitu ketika si anak mulai belajar mengenali warna (usia TK). Untuk memastikan jenis dan derajat buta warna, dapat dilakukan berbagai uji. Salah satunya yang cukup sering digunakan adalah uji isokromatik Ishihara.



Dapatkah disembuhkan?
Buta warna yang diturunkan secara genetis bukan lagi penyakit, melainkan kelainan. Sehingga tidak dapat disembuhkan. Namun buta warna yang didapat karena faktor selain genetis, lebih memiliki peluang untuk disembuhkan.

Apakah membahayakan?
Tidak membahayakan. Seorang penderita buta warna dapat beraktivitas seperti orang normal lainnya. Namun, buta warna memiliki dampak negatif yang dapat mempengaruhi hidup sang penderita.
  1. Sudah pasti, penderita tidak dapat  mengenali beberapa warna. Terlebih penderita buta warna tipe monokromatis yang hanya mengenali warna hitam, putih, abu-abu.
  2. Penderita yang ingin menjadi anggota militer, dokter, pemadam kebakaran, pelukis, arsitek, pilot, atau mekanik elektrik, mungkin akan kesulitan mencapai mimpinya.
  3. Untuk masuk ke perguruan tinggi tertentu, harus lolos tes bebas buta warna.
  4. Penderita akan kesulitan mendapatkan SIM karena untuk memperoleh SIM harus lolos tes bebas buta warna.
  5. Mungkin juga akan berpengaruh pada kehidupan percintaan sang penderita, mengingat penyakit ini bersifat menurun.
Jika Anda bukan penderita buta warna, bersyukurlah! Pergunakan nikmat melihat itu dengan sebaik-baiknya. Jika Anda penderita buta warna, tetaplah bersyukur! Di luar sana, masih banyak orang yang bahkan tidak dapat melihat. :D


Read More»»

Malam Lebaran

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Sitor Situmorang


Parafrase Puisi:
Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat-saat penuh kebahagiaan bagi umat yang merasa dirinya beriman setelah berhasil menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tak dapat disangkal, apa pun pangkat, kedudukan, dan status sosialnya, nyaris semua orang tenggelam dalam euforia hari raya itu. Mudik, makan ketupat, parsel makanan, baju baru, silaturahmi, berebut uang fitrah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Benarkan yang demikian ini disebut sebagai hari kemenangan? Dalam puisinya yang berjudul Malam Lebaran, Sitor Situmorang memberikan pandangan yang berbeda mengenai hari lebaran. Dengan kepiawaiannya membangun simbolisme dan kekuatan menciptakan citraan, Sitor berhasil menyampaikan sebuah kritik terhadap kesalahkaprahan masyarakat dalam memaknai hari lebaran.

Beberapa sumber mengatakan, puisi Malam Lebaran ini dilatarbelakangi oleh peristiwa yang terjadi pada malam lebaran ketika Sitor Situmorang hendak pergi ke rumah Pramoedya Ananta Noer. Ternyata ia tersesat. Ketika ia tersesat, ia melihat sebuah tembok putih. Ia penasaran apa yang ada di baliknya. Ia pun melongokkan kepalanya dan berkata, “Oo, kuburan.” Kemudian ia melanjutkan perjalanannya mencari rumah Pramoedya. Rupanya peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam benak Sitor sehingga ia pun mengabadikannya dalam sebuah puisi dan menggunakan simbol-simbol “bulan” dan “kuburan” untuk menjelaskan realita malam lebaran yang terjadi pada kebanyakan masyarakat kita. Kata “bulan” menggambarkan kebahagiaan dan kemeriahan malam lebaran. Sedangkan kata “kuburan” menggambarkan kepedihan kaum tak berpunya yang bahkan bingung harus makan apa pada keesokan harinya. Sehingga frase “bulan di atas kuburan” dapat diartikan sebagai keterasingan kaum tak berpunya di antara meriahnya malam lebaran.

Lebaran tidak semestinya digunakan sebagai momentum untuk berhura-hura. Ada yang terlupa bahwa di balik kemeriahan malam lebaran, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada hari bahagia itu. Mereka tidak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan memaksa mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam kamus hidup mereka. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu, sepeti menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Pada hari itu, kita juga berpisah dengan bulan yang seharusnya menjadi bulan yang kita nantikan kedatangannya. Kapan lagi kita dapat menemukan bulan di mana setan-setan dibelenggu, pahala diobral besar-besaran, pintu surga dibuka lebar-lebar, serta pintu neraka ditutup rapat-rapat? Bukankah seharusnya kita bersedih?

Ramadhan bukan sekedar bulan di mana kita, sebagai orang beriman, diwajibkan menahan lapar dan dahaga. Pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kita dapat memperoleh rahmat Allah. Mereka yang ingin mendapatkannya berlomba-lomba meningkatkan amalan baiknya. Pada sepuluh hari kedua, ampunan Allah diturunkan ke bumi. Dan pada sepuluh hari terakhir, ada satu malam yang jika kita mendapatkannya maka kebaikannya sama dengan amalan selama seribu bulan. Malam ini biasa disebut Lailatul Qadr atau disebut malam pembebasan dari siksa api neraka.

Yang lebih sering terjadi di masyarakat kita, justru bukan tangisan sedih ditinggal bulan ramadhan. Pada malam lebaran, hal-hal yang bersifat keduniawian justru semakin penuh sesak. Pasar tradisional, toko sembako, mall-mall, hingga jalan raya, tidak pernah sepi dari hiruk pikuk manusia. Nyaris sama dengan sesaknya hati kaum tak berpunya yang tidak tahu harus membelanjakan apa untuk hari raya pada keesokan harinya.

Kekontrasan tersebut seharusnya berganti dengan renungan dan doa-doa panjang sebagai wujud pengharapan atas ampunan Allah. Itulah yang disebut dengan sebenar-benarnya hari kemenangan, ketika umat manusia berhasil mengalahkan hawa nafsunya dan meningkatkan kualitas diri. Bukan tetap sama saja, sibuk dengan urusan dunia.

Read More»»

Saturday, September 17, 2011

Kita: Butir Pasir

Kita batu yang melapuk
Hanya butir pasir berserak di hamparan zaman
Mengepak sayap dalam hembusan angan
Itulah kita!
yang mengepung diri dalam fana

Kita batu yang melapuk
Hanya kehinaan yang berbangga diri
Letih tertatih dalam takdir
Beginilah kita!
Yang sengaja terjebak dalam fatamorgana

Kita butir pasir yang bodoh
Hanya sosok buta yang mengembara
Meraba-raba di manakah sebenarnya muara?
Read More»»

Saturday, September 10, 2011

Mentari Pelupuk Senja

dia masih saja sama
seperti mentari melambai di pelupuk senja
menyisa dingin di antara gelap gulita


9 September 2011

Read More»»

Monday, August 1, 2011

Untukmu Calon Dokter ..

Rekan yang terhormat,

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda. Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah. Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Kasian gaan .. :(


Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”Dik, mau diceritain dongeng nggak oom dokter?”

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “Maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…

NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.

Sumber: di sini
Read More»»

Wonderful Camping

7 Juli 2011
Hari itu adalah hari kamis pekan terakhir liburan. Terkisah, empat orang anak ababil sedang mencari kegiatan di detik-detik terakhir liburan meteka. Mereka adalah Endera, Annisa, Nadiya, dan aku. Ya, harus diakui, aku juga menjadi salah satu dari empat anak ababil tersebut. -___-

Kami pergi berkemah untuk mengisi detik-detik terakhir liburan kami. Sekitar pukul lima sore hari, kami bergegas berangkat menuju area perkemahan. Kami berangkat sendiri-sendiri, dan aku adalah orang kedua yang tiba di sana setelah Endera. Karena area perkemahan masih sepi, kami pergi dulu untuk menyiapkan bekal. Tidak jauh-jauh, ada sebuah toko yang cukup megah di sana, namanya Indomar*t. Kami pun memutuskan untuk membeli bekal di sana.

Setelah bekal tercukupi, kami kembali ke area perkemahan. Tidak lama setelah aku dan Endera kembali, Nadiya datang dengan membawa tenda dan peralatan lainnya. Senangnya .. Karena senja telah tiba dan matahari akan segera tenggelam di batas cakrawala, kami segera mendirikan tenda kami, tempat yang rencananya akan kami jadikan tempat tidur.

Ternyata membuat tenda sangat lebih sulit dibanding tidur di dalamnya. (yaiyalah!) Aku, Endera, dan Nadiya menghabiskan waktu yang cukup lama untuk dapat membuatnya berdiri dengan benar. Oh tidaaak! Matahari sudah melambaikan tangan, bersiap pergi meninggalkan kami. Tapi kami beruntung, masih ada bulan, bintang, dan kerlip lampu di sekitar arena perkemahan yang mau membantu kami.

Dan TARAAA ..! Tenda kami berhasil berdiri. Setelah sholat dan mengucap syukur kepada Allah, kami mencari makanan di sekitar perkemahan. Ketika meninggalkan arena perkemahan, kami bertemu dengan Annisa. Lengkap sudah anak ababil berkumpul. Kami segera bergegas berangkat.

Kami melewati jalan terjal dan gelap. Yaa, biasalah kemah. Mana ada yang serba instan? Di ujung kegelapan, kami menemukan cahaya. Itu dia yang kami cari. Kami menyebutnya dengan istilah HIK, alias Hidangan Istimewa Kampung. Aku makan dua bungkus nasi kucing dan segelas es teh. Menyenangkan sekali makan di HIK, meski remang-remang, tapi murah dan dijamin kenyang. Apalagi ditraktir sama Endera. Seru abislah.

Setelah itu kami kembali ke arena perkemahan. Di perjalanan kami sempatkan mampir di Indomar*t untuk (lagi2) membeli bekal. Dan mereka utang aku. Hahaha.

Inilah kemah gaya 2011!! Kami menyiapkan perangkat pendukung kegiatan kami, yaitu laptop, charger laptop, dan oloran. Malam itu kami berencana nonton film horor semalaman. Untuk mengurangi rasa horor di sekitar arena perkemahan, kami memasang lampu-lampu kerlap-kerlip yang unyuu di sekitar tenda.

Oiya, kami tidak menghabiskan malam di dalam tenda. Kami menonton film dan tidur di luar tenda, bersama karpet, bantal, selimut, sembari menikamati keindahan langit. Ternyata enak juga tidur di bawah bintang.

Dan seperti yang udah gue duga sebelumnya. Kami nggak bakal bener-bener nonton film horor. Kami hanya menimati sebuah film horor korea yang juga cenderung ke drama, filmnya menguras otak, bukan adrenalin. Hahaha. Dan tahukan teman-teman apa yang kita tonton setelah itu? We Got Married (WGM) Khuntoria dari episode 1 sampai episode tak terhingga. Bagi yang belum tau, WGM itu adalah salah satu reality show favorit di Indonesia dan Korea yang isinya hal-hal lucu dan romantis. Cari tau sendiri yaa ..

Kami menonton WGm sampai pagi. Aku izin tidur duluan jam 1 pagi, sedangkan tiga teman ababilku, tidur jam 3 pagi.

Paginya, kami bangung kesiangan. Bagi kami alarm cuma mitos karena tidak benar-benar berfungsi. Kami bangun jam 05.15 dan baru sholat subuh jam 05.30. Payah. Rambut kami lepek, basah, dijatuhi embun. Kulit kami meringding kedinginan dibelai angin pagi. Beginilah suasana ketika menyatu dengan alam. Setelah itu kami lanjut nonton WGM, dan baru beres-beres yenda ketika matahari sudah berada tepat di atas kami.
Tampilan kami waktu nonton pilm


NB:
Lokasi kemah di lantai 3 rumah Endera Ayu Luviana, Fajar Indah, Colomadu, Karanganyar. :D
Read More»»