Tuesday, December 13, 2011

Menggalaukan Matahari

Hujan bernyanyi di luar sana. Seperti sebuah lagu sendu yang iramanya senada dengan senandung yang mengalun malu-malu di hatimu. Perlahan air itu jatuh memecah sunyi. Hanya dalam sepersekian detik, waktu menjadi riuh, dan akhirnya menjadi gaduh.

Saat itu aku sedang bersama sepi sebelum akhirnya dia terusir riuh. Aku sedang menikmati sore setelah lelah berkutat pada baju-baju setrikaan tiga hari yang sepertinya sedang berlomba dengan gedung-gedung kota untuk menjadi yang lebih tinggi.

Tiba-tiba sebuah sms masuk, dari kawan lama.
"Hati-hati hujan! Menurut ilmu pengetahuan modern, hujan terbukti dapat memicu kegalauan. Apakah Anda galau?"

Aku tertawa. Bagaimana dia bisa tahu? Di sini aku sedang berada di balik jendela. Menunggu munculnya kembali matahari yang sekarang tertutup awan abu-abu. Mungkin kau bertanya matahari yang mana. Boleh ku jawab? Matahari yang sama, Mentari Pelupuk Senja.

13 Desember 2011
16:27
Read More»»

Saturday, December 3, 2011

Why Indonesian High School Students are Stressed Out

No one can deny that studying becomes an important thing to do. It is not an activity that can be chosen, but it becomes a compulsory for all students arround the world. In this globalization era, especially in Indonesia, a tight competition to get a good school, good university and decent job makes Indonesian students have to make a hard effort if they really want to get it. After graduating from high school, the competition is tighter than before. As a result, Indonesian high school students are demanded to study harder and harder because they have to be ready to face the tight competition in their future. Some of them do not consider it as a burden, but some others feel so stressed out. I believe that stress faced by Indonesian high school students is caused by some reasons.

First, many Indonesian high school students feel stressed out because of the enormous demands from surroundings. For example, competition with other students in the same school to take a program such as science and social class that they prefer makes the students have to study hard. After entering the program that they prefer, they still have to face a tight competition to be accepted in a good university. It also needs a hard effort. Some parents also make a high score target for their children because they think that high score can absolutely make their children successful in the future. They think that the high score will help their children to get a good university after graduating from high school. To help the students to get a good university, some teachers also give many assignments and encourage the students to get a good result. It can be a burden for students because they have too many things to think so that they become stressed out.

Second, stress faced by Indonesian high school students is caused by the tight schedule that the students have. Students have to go to school early and go home late because of some school activities, such as additional lessons and extracurricular activities. After school, some students also have to join a course. They almost go home late everyday. After having a course, even though they have been tired, they have to prepare for the next day school activities, such as homeworks, examinations, presentations, and etc. Because of that tight schedule, students find a difficulty to manage their time wisely. Some of them are getting sick and frustated easily.

Third, the students are also stressed out because of their own pshycological condition. As we know, life is more complex than books, theories, and good scores. Some students also have problem that must be solved. Maybe they have problem with their family, friends, teachers or others. Sometimes, the students are afraid with their teacher. This condition is absolutely bad because it can make them difficult to digest what the lesson. It is frustating for them because they have to understand the materials to get a good score but they can’t digest the materials. As a result, they don’t have any confidence and feel desperate to learn.

In conclusion, tight schedule, demands for high score from teacher and parents, and student’s phsycologycal condition can be such burden for some Indonesian high school students. It causes the students get difficulties in studying. Those difficulties can make them feel desperate and then being stressed out.

Read More»»

Tuesday, October 18, 2011

Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

W.S.Rendra


Ketika tungku tidak memiliki api dia tak ada gunanya, pun ketika api tidak memilik pematik. Jangan main api, tungkupun bisa terbakar!
Read More»»

Sunday, October 2, 2011

Kitaro - Matsuri (SCIFO moment)



Pas kelas XI dulu, entah tanggal berapa, SCIFO pernah main instrument Kitaro-Matsuri untuk ujian seni musik.
How beautiful it was ! :)
Alat musik yang kita gunakan dulu cuma drum, jimbe, pianika, recorder, gitar, keyboard, dan marakas. Sederhana, tapi mengena.

Awalnya ada anak yang cuma iseng-iseng dengerin lagu ini di komputer kelas. Trus tiba-tiba tercetus ide untuk memainkan lagu ini untuk ujian seni musik. Siip. Akhirnya dilakukan pendataan alat musik apa yang dimainkan. Setiap anak memainkan minimal satu alat musik. Setelah selesai didata, notasi demi notasi pun disusun, sesuai dengan alat musik yang akan dimainkan.

Diawali dengan drum, yang dimainkan oleh Andi. Kemudian dilanjutkan dengan permainan jimbe oleh -ketoke sak elingku- Hasan, Beny, Bayu, Sony. Baru setelah itu pianika. Yang main pianika jumlahnya paling banyak. Jadi pianika dibagi menjadi tiga regu, regu chord, suara 1, dan suara 2. Perpaduan yang indah terletak pada reff ketika pianika (baik chord, suara 1, maupun 2) berkolaborasi dengan merdunya suara recorder. Wah wah wah. Setelah itu kita dengerin Astrid ber-solo keyboard. Bagusnya melebihi Kevin Vierra. *eh

Endingnya klimaks banget. Nggak bisa diceritain di sini. Seandainya waktu itu ada yang ngerekam, udah pasti sejak dulu aku abadikan dalam catatan ini. Sayangnya, NGGAK ADA.

Tapi aku nggak bakal lupa gimana sensasinya ketika memegang tuts pianika dan teriak "SCI-F0-SCI-FO-SCI-FO .. !" di akhir lagu. Rasanya berkesan banget.
Read More»»

Wednesday, September 28, 2011

Apa Itu Buta Warna?

Buta warna, seperti namanya, merupakan sebuah penyakit -lebih tepat disebut kelainan-, yang menyebabkan seseorang tidak mampu membedakan warna. Masyarakat sering salah kaprah mengenai penyakit ini. Banyak yang mengira penderita buta warna hanya mampu menerjemahkan warna hitam dan putih saja. Padahal sebenarnya penyakit ini diklasifikasikan menjadi beberapa tipe buta warna, di antaranya:

  1. Monokromasi, tipe inilah yang paling dikenal oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.
  2. Dikromasi, yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Dikromasi dibagi menjadi 3, yaitu:
    • Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang.
    • Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
    • Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
  3. Trikomasi, yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:
    • Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah.
    • Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderit.
    • Trinomali, kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
Mengapa bisa terjadi?
Faktor utama terjadinya buta warna adalah faktor genetis, di mana sifat-sifat buta warna itu mau tidak mau menurun sejak manusia itu lahir dan akan diturunkan pula ke generasi penerus mereka. Sifat-sifat ini berupa genotipe (sifat yang tidak tampak dari luar) yang akan dimanifestasikan ke dalam fenotip (sifat yang tampak dari luar). Manusia memiliki 46 kromosom, yang tersusun atas 44 autosom dan 2 gonosom. Gonosom XX untuk perempuan dan XY untuk laki-laki. Autosom maupun gonosom inilah yang akan membawa sifat-sifat tersebut.

Laki-laki dan perempuan memiliki autosom yang sama, baik dari segi jumlah maupun jenis. Oleh karena itu, apabila suatu sifat dihantarkan melalui autosom, maka laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan maupun tidak mendapatkan sifat tersebut.


Lain halnya apabila gonosom yang membawa sifat-sifat. Seperti yang kita ketahui, laki-laki dan perempuan memiliki gonosom yang berbeda, yaitu laki-laki XY dan perempuan XX. Oleh karena itu, apabila suatu sifat terkait dengan kromosom tertentu, misalnya X, maka sifat tersebut akan lebih mudah diturunkan pada laki-laki, karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Dan akan diturunkan pada perempuan apabila kedua kromosom X menggandeng sifat-sifat tersebut. Apabila hanya salah satu kromosom X-nya yang membawa sifat-sifat tersebut, maka penurunan sifat belum tentu terjadi. Kebanyakan hanya akan membuat perempuan tersebut menjadi carrier atau pembawa sifat. Ia tidak mendapatkan sifat tersebut secara fenotip, namun akan menurunkan sifat tersebut pada anaknya. Dan apabila sifat tersebut terkait dengan kromosom Y, dapat dipastikan sifat tersebut tidak akan diturunkan pada perempuan, yang notabene kedua kromosomnya adalah X.


Namun dalam kasus buta warna, buta warna diturunkan oleh kromosom X. Mungkin penjelasan yang rumit di atas dapat dipersingkat melalui penjelasan dalam gambar di bawah ini:


Karena itulah buta warna lebih sering ditemukan pada pria (7-8%) daripada wanita (0.4-0.5%). Seorang ayah yang buta warna dapat memiliki anak perempuan normal yang pembawa buta warna ataupun anak laki-laki yang buta warna. Apabila wanita pembawa buta warna menikah dengan pria normal sekalipun, ia masih mungkin memiliki anak laki-laki yang buta warna. Anak perempuan buta warna hanya mungkin dihasilkan dari ibu pembawa buta warna dan ayah yang buta warna.


Bagaimana buta warna dideteksi? 
Buta warna yang dibawa secara genetis biasanya baru diketahui ketika anak sudah mulai agak besar, yaitu ketika si anak mulai belajar mengenali warna (usia TK). Untuk memastikan jenis dan derajat buta warna, dapat dilakukan berbagai uji. Salah satunya yang cukup sering digunakan adalah uji isokromatik Ishihara.



Dapatkah disembuhkan?
Buta warna yang diturunkan secara genetis bukan lagi penyakit, melainkan kelainan. Sehingga tidak dapat disembuhkan. Namun buta warna yang didapat karena faktor selain genetis, lebih memiliki peluang untuk disembuhkan.

Apakah membahayakan?
Tidak membahayakan. Seorang penderita buta warna dapat beraktivitas seperti orang normal lainnya. Namun, buta warna memiliki dampak negatif yang dapat mempengaruhi hidup sang penderita.
  1. Sudah pasti, penderita tidak dapat  mengenali beberapa warna. Terlebih penderita buta warna tipe monokromatis yang hanya mengenali warna hitam, putih, abu-abu.
  2. Penderita yang ingin menjadi anggota militer, dokter, pemadam kebakaran, pelukis, arsitek, pilot, atau mekanik elektrik, mungkin akan kesulitan mencapai mimpinya.
  3. Untuk masuk ke perguruan tinggi tertentu, harus lolos tes bebas buta warna.
  4. Penderita akan kesulitan mendapatkan SIM karena untuk memperoleh SIM harus lolos tes bebas buta warna.
  5. Mungkin juga akan berpengaruh pada kehidupan percintaan sang penderita, mengingat penyakit ini bersifat menurun.
Jika Anda bukan penderita buta warna, bersyukurlah! Pergunakan nikmat melihat itu dengan sebaik-baiknya. Jika Anda penderita buta warna, tetaplah bersyukur! Di luar sana, masih banyak orang yang bahkan tidak dapat melihat. :D


Read More»»